"Dunia Kita Dunia Keluarga" sajikan Info seputar RESEP MASAKAN KELUARGA-DUNIA SEHAT-KELUARGA KITA-DUNIA KOMPUTER-SERBA-SERBI-dll
Showing posts with label NYANYIAN HAMBA YANG TERLANTAR. Show all posts
Showing posts with label NYANYIAN HAMBA YANG TERLANTAR. Show all posts

Sunday, December 26, 2010

KEMARAU

Bocah-bocah kecil berlari
Dengan celananya yang lusuh
Mereka berteriak lantang memandang langit
Lalu mengejar mendung yang disapu angin panas
Kakinya yang telanjang
Menapak satu satu di tanah bumi yang terpanggang
Keluh suaranya bergema menembus sumur sorga

Namun sang mata air hanya cucurkan air mata mereka
Manusia-manusia ditimpuk keresahan
Gundah gulana, bencana dan malapetaka

Kemarau panjang menghanguskan jiwa
Pohon pepohonan kering
Lahan-lahan pangan tandus menahan dahaga
Sementara si fulan yang kaya dan serakah
Menikam bumi dengan angkuhnya
Tanpa mau dengar do'a dan petuah
Yang dihamparkan para kyai
Di jagad raya yang tengah sekarat ini

Kemarau,
Kau sumber kemarau hati insani
Nafasmu menghisap nafas sang penghuni
Hawa panasmu membakar seluruh negeri
Jerit memilu mengiringi ayun langkah kami
Yang kian hari makin membeku

Kemarau,
Dulu kau datang
Kini kau datang
Besok dan lusapun kau tetap datang
Mungkinkah semua hanya sekedar panggilan musim
Ataukah karena tingkah pola manusia
Yang memaksamu agar tinggalkan sang peraduan

Kemarau,
Apakah kini sang musim sudah saling menghianati
Apakah kini sang musim sudah saling meracuni
Sehingga kini kau kehilangan tempat sembunyi
Dan kau berkelana tanpa kendali
Menjelajah kehidupan tanpa perduli

Kemarau
Lihatlah bocah-bocah kecil terus menanti
Berharap hujan akan datang lagi

Kemarau,
Lihatlah bocah-bocah kecil terus menanti
Melamunkan tarian di bawah air langit
Yang dulu mereka mainkan dengan riangnya
Tapi kini lihatlah bocah-bocah kecil yang terus menanti
Tarian hujan hanya tinggal sebuah mimpi


Sidayu, Oktober 1992

SABDA ALAM

Saat menjelangnya surya
Di naung hingar deru debu
Hingar bingarnya suara mesin
Hantar diri-diri


Dilenyap temaramnya mega
Teruak terang-terang
'kan terkutip
Wajah raya mewarna
Selintas lepas
Tertembus di kacanya

'tuk ucap
'kan terima kata
'kan teruntai sejuta makna
Terangkai dalam karya

Betapa alam memberikan sabdanya
Pada manusia yang tak pernah berhenti
Pada apa saja mau mencari
Pastikan nanti kan kau temui
Kuasa Illahi atas langit dan bumi


Pebruari 1989

IBU

Jauh mata ujung kau tempuh
Walau sesekali duri jalan melukaimu
Gelap terang layang kau rengkuh
Mengiring dayung bahtera pelukmu


Ibu,
Kau pelita dian langkahku
Penghangat malam sayuku

Ibu,
Peluhmu deras membasah
Lelah penat menjamah usia
Terhuyung tegar goyah dan rebah
Membaur kasih dan cinta
Semua satu untuk ananda

Ibu,
Tak mampu aku mengungkap kata-kata
Untuk rasa yang tiada rasa
Betapa makna kupersembahkan
Masih terasa masam bila ditelan

Ibu,
Dengan apalagi aku harus berbuat
Bila semuanya telah kau berikan padaku
Apalah arti aku ini,
Rasa alam yang hangat
Sentuhan angin yang tulus
Tidak selembut dan sehangat belaimu

Ibu,
Tak ada lagi yang mampu mengerti
Tak ada lagi yang mampu perduli
Hanya engkau kekuatanku
Yang membisikan cahaya Ilahi
Batinmu adalah batinku
Hingga tiada kuasa aku mencari
Di pintu Ilahi semua dinanti
Hanya itu yang selalu kumengerti

Anas, Januari 1989

MALAM

Kini malam semakin kelam
Sepi lengang dingin mencekam
Teltik merintik dalam kesunyian
Saat terdengar nyanyian malam bersama hujan

Kina larut,
Kian pekat,
Malampun bertambah malam
Gelitik air hujan semakin menyayat

Pucat tubuh rasa terkoyak
Menggigil kaku
Luyuh,
Lumpuh,
Tercekam malam yang makin hitam

Angin Menderak mengorek daun
Menduai dalam teltik yang makin risik
Merambat halus dalam lamunan
Pada tubuh yang makin koyak
Lemas tak berdaya
Sesaat mengejang
Sesaat menjerit
Menggedak di kesunyian malam

Jeritan tangis memanjang
Menggemparkan malam yang lengang,
ketika ajal lepas menghilang

Kini tubuh yang terkoyak
Yang menggigil kaku
Terlihat lemas sekali
Tak ada tanda untuk esok hari

Anas, Desember 1988

AKU DAN KAU

Waktu itu,
Saat matahari berwajah bulan
Dan ketika malam beranjak datang

Ada sorot malu menatap mataku
Begitu sayu memilu kalbu
Siapakah kau itu
Kini ada rindu merana jauh
Ingin mencari namun tak tahu
Hanya bayangmu kukenang selalu
Biar kukenal lewat mimpiku
"kan kutulis dalam puisiku
Dan ketika akan saling tahu
meski tanpa ucap kata-kata
Entah...
Mengapa aku begitu rindu
Rasa di isini tak mampu sembunyi
Pertemuan itu tak mudah berlalu
Meski aku dan kau tak saling tahu


Anas,
Malang 24 September 1992

KEHIDUPAN

Ketika hidup mulai terburu-buru, dikejar atau hanya untuk mengejar sesuatu yang semu, yang tak berujung pangkal dan terus melambung diantara khayal dan mimpi palsu diantara keinginan dan harapan, namun kosong tak bermakna hilang tak berkesan tak tampak tapak yang tertinggal diantara sesak nafas yang terengah-engah karena rasa lelah di alam fana...


Dunia penuh liku
Yang terus memburu
Otak manusia melambung bersama angan - angan semu
Mencengkram dunia dalam mimipi yang palsu
Di saat peluru - peluru berkuasa di sana
Di sini telah mulai kehidupan baru

Banyak sudah yang tak mau tahu
Karena memang sudah lama mereka tahu
Tentang apa yang mereka tahu
Tak satupun akan mengerti
Dan memang tak ada yang mau mengerti

Mungkin hanya mereka saja
Karena memang merekalah yang punya

Jangan lagi bertanya
Dan jangan lagi berpura - pura
Karena memang tak ada lagi rahasia

Tanpa apapun,
Dan dengan perantara apa,
Sesuatu yang tak ada makna
Atau yang tak pernah ada sama sekali
Kini tak perlu lagi kamu perduli
Karena memang tak ada lagi kepedulian

Yang pasti,
Tapi tidak ada satupun yang tahu pasti
Karena bukan mereka yang punya kepastian
Yang pasti,
Akan tiba saat yang bisa dimengerti
Dan tak ada lagi yang mampu sembunyi

Anas, Desember 1988

UNTUK KAWAN LAMA

 (Mengenang dan terkenang karena kini usia semakin berkurang teringat masa terkenang kawan-kawan 
yang kini menghilang dari pandangan mata 
tapi masih terlukis 
dalam relung yang paling dalam... )


Kala aku hilang
Saat senang dan susah resahkan rasa
Datang angin tiupkan cerita lama
Pada bathin hati yang terlena
Pada daun alam yang bicara sendiri
Dan dalam hening datang bayang - bayang
Ada tertawa
Ada tanya
Ada celoteh nakal
Sapaan dan saling cerita
Dan apa saja saat kita sama - sama di sana

Untuk kawan lama,
Kemana perginya dongeng orang tua
Saat kita di atas angan sendiri
Saat kita terhempas badai i jalan berduri
Kemana,
Kemana lagi harus ku cari
Dongeng sejati yang tak ku temui di sini

Untuk kawan lama,
Begitu cepat coretan kisah kita berakhir
Yang kini hanya terukir di hati masing - masing
Yang mungkin tidak di perdulikan lagi
Karena kini telah kau temukan lambang baru
Di tengah takdir yang telah kita lampaui,

Untuk kawan lama,
Adakah jejakmu masih di sana
Telapak naluri yang pernah menggores dinding dunia
Dengan senyuman nurani yang menggelitik banyak jiwa
Atau terkikis nafsu yang kuasai serakahmu


Untuk kawan lama,
Ada banyak angka yang menghitung usia
Ada banyak kata yang merangkai makna
Ada banyak khayal diantara kita
Tapi tak banyak nasib menaruh iba
sementara,
Setiap kali terlihat pesona di sana
Biru langit itu masih penuh dengan asap mega-mega
Yang sesekali tampak seperti bayanganku sendiri
Seolah ada banyak gundah
Isakan sesak lautan air mata


Untuk kawan lama,
Kita pastikan kini ada sisa cerita
Selembar jiwa untuk abadikan kisah lama
Dan pastikan kita tak salah langkah
Di atas kaki bumi Illahi Robi
Teguh dan kita satukan hati bathin ini 
Dan tinta alam yang akan ukir langit-langit
Dalam lembar harian kita masing-masing
Dan kita takkan saling lupa
Meski ada gejolak ingin mencari jalan sendiri

Anas, Malang 5 Juli 1992
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...