"Dunia Kita Dunia Keluarga" sajikan Info seputar RESEP MASAKAN KELUARGA-DUNIA SEHAT-KELUARGA KITA-DUNIA KOMPUTER-SERBA-SERBI-dll
Showing posts with label mental. Show all posts
Showing posts with label mental. Show all posts

Sunday, July 5, 2009

Hakekat Mental


1. Pengertian Mental



Mental berasal dari kata latin yaitu mens, mentis yang artinya: jiwa, nyawa, sukma, roh, semangat (Kartini Kartono, 1987:3). Sedangkan dalam kamus psikologi Kartini Kartono, (1987:278) mengemukakan:






Mental adalah yang berkenaan dengan jiwa, batin ruhaniah. Dalam pengertian aslinya menyinggung masalah: pikiran, akal atau ingatan. Sedangkan sekarang ini digunakan untuk menunjukkan penyesuaian organisme terhadap lingkungan dan secara khusus menunjuk penyesuaian yang mencakup fungsi-fungsi simbolis yang disadari oleh individu.



Pengertian mental dalam kamus besar bahasa Indonesia, (1991:647) adalah“Berkenaan dengan batin dan watak manusia, yang bukan bersifat badan atau tenaga, Bukan bersifat badan atau tenaga: bukan hanya pembangunan fisik yang diperhatikan melainkan juga pembangunan batin dan watak”.



Mental secara istilah dapat diartikan dengan “semangat jiwa yang tegar, yang aktif, yang mempengaruhi perilaku hidup dan kehidupan manusia” (Mawardi Labay El- Sulthani,2001:2).



Melihat dari pernyataan diatas, maka mental bisa diartikan sesuatu yang berada dalam tubuh (fisik) manusia yang dapat memepengaruhi perilaku, watak dan sifat manusia di dalam kehidupan pribadi dan lingkungannya.



2. Ruang Lingkup Mental



Dalam Agama Islam keterpisahan antara ilmu pengetahuan dan masalah agama tidaklah terjadi. Agama dan ilmu pengetahuan adalah dua hal yang berjalan seiringan dan tidak terpisahkan. Oleh karena itu bagi seorang Muslim untuk membuat pemisahan antara pendekatan psikologi dan agama itu tidak mungkin, karena kajian manusia banyak disebut-sebut dalam Al- Quran.

Djamaludin Ancok mengemukakan :



Kajian tentang diri manusia banyak disebut-sebut Allah SWT dalam Al- Quran Antara lain “kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri” (QS.41:45). Ayat ini mengisyaratkan bahwa di alam semesta maupun dalam diri manusia terdapat suatu yang menunjukkan adanya tanda-tanda kekuasaan Allah. Yang dimaksud dengan “sesuatu” di sana adalah rahasia-rahasia tentang keadaan alam dan keadaan manusia (Djamaludin Ancok, 2001:148).



Kalau dikaji lebih jauh ayat-ayat Al-Quran dapat ditangkap bahwa manusia menenmpati posisi penting, seperti yang tertera dalam Al-Quran yang diturunkan kepada Rasulullah berbicara tentang manusia “Khalaqol insaana min’alaq”. Dapat diperhatikan dengan cermat, ada salah satu yang berkenaan dengan manusia yaitu jiwa.



Sedangkan dalam kajian psikologi masa kini ruang lingkup jiwa (mental) berkisar pada: tri- dimensionaraga (organo-biologi): jiwa (psiko-edukasi), dan lingkungan sosial budaya (sosio- kultural) sebagai penentuan utama perilaku dan kepribadian manusia. Dalam hal ini unsur raga semata bukan merupakan bidang kajian mental, melainkan termasuk bidang kajian bologi dan ilmu kedokteran demikian pula unsur lingkungan sosial budaya “an sich” tidak termasuk lahan mental tetapi bidang cakupan sosiologi dan antropologi. Tetapi sejauh kedua unsur ini berkaitan dengan pengalaman (kejiwaan) manusia, maka sudah tentu psikologi dapat dilibatkan.



Dengan demikian ruang lingkup psikologi secara garis besar adalah bidang-bidang psiko-biologi, psiko-ekstensial, dan psiko-sosial (budaya) dengan segala kemajemukannya (Hanna Djumhana Bastaman, 2001:148).



Sedangkan yang dimaksud dalam penelitian ini hanya berkisar pada organo- biologi (psiko-biologi) dan psiko-edukasi (jiwa).



3. Aspek-Aspek Mental



Manusia adalah makhluk yang pada dasarnya baik dan selalu ingin



Kembali padakebenaran yang sejati, karena pada diri manusia mempunyai



Aspek-aspek jiwa yang bisa mempengaruhi segala sikap dan tingkah laku manusia. Bertolak dari pernyataan maka aspek-aspek manusia dapat dijabarkan sebagai berikut:



a. Kartini Kartono (2000:6) mengemukakan bahwa aspek mental yang ada dalam diri manusia adalah keinginan, tindakan, tujuan, usaha-usaha, dan perasaan



b. Zakiah Darajat (1990:32) berpendapat bahwa aspek mental yang ada dalam diri manusia adlah kehendak, sikap, dan tindakan.



c. Mawardi Labay El- Shuthani (2001:3) memnadang bahw aspek mental yang ada dalam diri manusia adalah segala sesuatu yang menentukan sifat dan karakter manusia.



d. IbnuSina (1996:116) berpendapt bahwa aspek mental yang ada dalam diri manusia adalah kesadaran diri, amarah, dan keinginan.



e. Al Ghazali (1989:7)mengemukakan bahwa aspek mental yang ada dalam diri manusia adalah yang merasa, yang mengetahui dan yang mengenal.



f. Hanna Djuhamham Bastaman (2001:64) memandang bahwa aspek mental yang ada dalam diri manusia adalah berpikir, berkehendak, merasa, dan berangan-angan.



Pernyataan di atas menunjukkan bahwa aspek mental yang ad pad diri manusia adalah aspek-aspek yang dapat menentukan sifat dan karakteristik manusia itu sendiri. Perbuatan dan tingkah laku manusia sangat ditentukan oleh keadaan jiwanya yang merupaka motor penggerak suatu perbuatan. Oleh sebab itu aspek-aspek mental tersebut bisa manusia kendalikan melalui proses pendidikan.



Sumber : www.pendidikankita.com



Wednesday, July 1, 2009

Pendidikan Mental


Justify Full1. Pengartian Pendidikan Mental

Pendidikan berasal dari kata "didik", Lalu kata ini mendapat awalan kata "me" sehingga menjadi "mendidik" artinya memelihara dan memberi latihan. Dalam memelihara dan memberi latihan diperlukan adanya ajaran, tuntutan dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran (Kamus Bahasa Indonesia, 1991:232).



Selanjutnya pengertian "pendidikan" adalah proses perubahan sikap dan tatalaku sseorang atau kelompok orang dalam mendewasakn manusia, seperti yang tertera dalam undang-undang Sistem Pendidikan Nasional, No.2 tahun 1989. "Pendidikan" adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya dimasa yang akan datang.

Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan mental dalam penelitian ini adalah suatu usaha sadar yang dilakukan untuk memelihara, melatih, membimbing, dan mengarahkan batin dan watak manusia (mental) yang lebih baik supaya menjadi manusia seutuhnya. Artinya sosok manusia yang mempunyai kekuatan baik fisik maupun psikis dan mampu mengadakan perubahan-perubahan dalam tingkah laku dan sikap dimasa yang akan dating di dalam lingkungannya. Melihat dari pernyataan di atas tidak terpaku pada pendidikan di luar sekolah, salah satunya pendidikan mental lewat seni beladiri sebagaimana yang didefinisikan oleh PB. IPSI bersama Bakin. (Pepdikbud, 1985:46). Seni beladiri adalah basis budaya manusia Indonesia untuk membela eksistensi (kemandirian) dan integritas (kemanunggalan) terhadap lingkungan hidup guna meningkatkan hidup guna meningktakan iman dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Sebagaimana yang tertera dalam Undang-Undang NO.2 Tahun 1989 Tentang sistem Penidikan Nasional BAB II Pasal 4.

Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan.

2. Metode Pendidikan Mental

Metode adalah istilah yang digunakan untuk mengungkapkan pengertian "cara tepat dan cepat dalam melakukan sesuatu" (Ahmad Tafsir,1996:9), sehingga metode pendidikan mental dapat diartikan yaitu suatu cara tepat dan cepat dalam melakukan latihan, bimbingan, pemeliharaan batin dan watak manusia (mental).

Mawardi Labay El-Sulthani (2001:24) mengemukakan perkembangan mental akan mejadi mental yang baik atau mental yang jelek, tergantung alam ligkungan atau pendidikan yang akan mempengaruhinya. Bertolak dari pernyataan di atas pendidikan mental sangat penting bagi manusia supaya memiliki mental yang kuat, dengan cara yang tepat dan cepat secara bertahap.

A. Mawardi Labay El-Sulthan (2001:5) mengemukakan dalam bukunya yang berjudul Mental Yang Kuat Untuk Sukses Dan Selamat bahwa pembinaan mental yang baik yaitu dengan menanamkan Iman dan Taqwa.

B. Zakiah Darajat (1990:90) mengemukakan dalam bukunya yang berjudul Agama dan Kesehatan Mental bahwa pembinaan mental yang baik yaitu dengan cara mengambil nilai-nilai yang ada pada lingkungan terutama lingkungan keluarga sendiri yaitu nilai-nilai agama moral dan social.

C. Abu Ahmadi (1998:58) mengutarakan pembinaan mental yang baik yaitu dengan cara:

1) Mengembangkan potensi-potensi yang ada pada diri manusia.
2) Memberikan pencerahan batin dengan memberi kemampuan melihat rangkaian problem yang sedang dihadapi.
3) Membangkitkan semangat persatuan dan kesatuan dalam kehidupan.

D. Balnadi Sutadipura 1985:37) mengemukakan dalam bukunya yang berjudul Kompetensi Guru Dan Kesehatan Mental pembinaan mental itu dengan cara:

1) Menanamkan nomos (aturan) pada diri manusia
2) Menanamkan rasa tanggung jawab
3) Menanamkan rasionalitas dan common sense (merasa ingin diakui)
4) Menanamkan disiplin

E. Robert peek dalam buku Kompetensi Guru Dan Kesehatan Mental karangan Balnadi Sutadipura, mengemukakan untuk menanamkan mental yang baik adalah dengan cara menanamkan :

1) Initiative, inisiatif atau alpukah yaitu tidak mudah terpengaruh.
2) Self-directing, sifat untuk berani menetapkan arahan hidup atau perbuatan yang diyakininya.
3) Emosional Maruting ialah kedewasaan emosi: kemampuan untuk melakukan reaksi terhadap yang dialaminya, dilihatnya, didengarnya, dirasakan, dibacanya, dan tidak mudah terpengaruh secara berlebihan.
4) Self- Realzing drive: suatu kemampuan untuk atas kemampuan sendiri adalah melakukan segala sesuatu dengan mengerahkan kemampuan yang ada padanya.
5) Self- acceptance: sikap yang tidak menimbulkan penyesalannya atas kehdiran di dunia ini.
6) Resfect for other: menaruh rasa hormat terhadap orang lain.

F. Singgih D. Gunarsa (1996:104) dalam psikologi olahraga mengemukakan bahwa dalam pendidikan mental yang harus dididik antara lain:

1) Adanya penanaman pengendalian emosi dengan cara:
(a) Adanya keterbukaan antara pelatih dan anggotanya.
(b) Latihan simulasi untuk membiasakan (condifioning) atau pendidikan, ialah usaha untuk membiasakan diri dan supaya tidak asing dengan segala yang akan dihadapinya.
(c) Latihan menghilangkan atau mengurangi kepekan (desintiuitication). Latihan yang diarahkan agar tidak mudah tergoncang jiwanya karena memikirkan sesuatu perkara yang buruk.
(d) Latihan relaksasi progesif (progesive relaxation training) untuk mengurangi ketegangan melalui peregangan atau pelemasan otot sehingga tercipta suasana yang lebih tenang.
(e) Latihan autosuggestion, centring adalah latihan untuk memusatkan perhatian terhadap kehidupan yang sedang dihadapinya dan menyingkirkan pikiran-pikiran yang mengganggu (menyerupai meditasi).

2) Memberi motivasi dengan cara
(a) Menanamkan nilai-nilai kepuasan tersendiri dalam melakukan sesuatu.
(b) Memberi dorongan kepercayaan diri dengan meyakinkan kemampuannya yang telah terpupuk dari dulu melalui usaha latihan yang telah dilakukan.

3) Memberi latihan aspek kognisi dengan cara:
(a) Seseorang harus bisa memusatkan perhatian pada sesuatu yang sedang dihadapinya dan mencari jaln keluarnya sendiri.
(b) Memberi gambaran suatu kesalahan-kesalahan atau kelemahan orang lain yang harus diperbaiki dan harus dipelajari timbulnya kesalahan.

Dalam Buku Dasar-Dasar Respons Relaksasi Karangan Herbert Benson Dan William Procror mengemukakan pembinaan mental yang baik adalah:

G. B.F Skiner (2000:93) mengemukakan pendidikan mental dilakukan dengan cara adanya suatu usaha perubahan lingkungan sehingga dapat mengendalikan perilaku, dengan memberikan suatu dorongan atau memberikan sesuatu ( hadiah)

H. Neil E. Miller (2000:94) mengemukakan pendapatnya bahwa pendidikan mental dilakukan dengan cara pengendalian proses tubuh bawah sadar melalui proses Biofedback meliputi pemberian hadiah dan hukuman.

I. Yogi Maharishi Mahesha (2000:101) memaparkan bahwa pendidikan mental dilakukan dengan bermeditasi (Transcendental Meditation).

J. H.H. Shult seorang ahli syaraf Jerman (2000:113) mengamukakan pendidikan mental dilakukan dengan pelatihan autogenik yaitu salah satu teknik terapi medis yang didasarkan pada pelatihan mental, sehingga orang yang bersangkutan mampu secara sadar mengantarkan dirinya ke dalam keadaan yang kurang stabil atau disebut keadaan Trofo Trofis Hess dengan cara:

1) Memusatkan satu perasaan terhadap beban yang sedang dialaminya.
2) Sensasi (kesan) hangat dianggota badan.
3) Mangatur detak jantung.
4) Konsentrasi pasif pada pernafasan.
5) Mengupayakan kesejukan pikiran.

Pendapat para pakar di atsa menunjukkan keselarasan dalam membentuk mental yang sehat dan kuat menurut para pakar pendidikan dapat penulis rumuskan menjadi beberapa aspek antara lain sebagai berikut :

1. Pembinaan mental melalui agama.
2. Pembinaan mental melalui pribadi.
3. Pembinaan mental melalui lingkungan.

Pembinaan mental melalui agama yaitu dengan cara menanamkan keimanan dan ketakwaan, pembinaan mental melalui pribadi dengan cara mengendalikan emosi, motivasi, berfikir positif, dan mengembangkan potensi diri, sedangkan pembinaan mental melalui lingkungan dengan cara memahami situasi keadaan masyarakat, mengambil nilai-nilai positif dalam keluarga dan masyarakat,dari ketiga aspek itu adanya keterkaitan antara yang satu dan yang lainnya sehingga apabila yang satu tidak terpenuhi maka yang lainnya juga tidak akan maksimal.

Sumber : www.pendidikankita.com
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...