"Dunia Kita Dunia Keluarga" sajikan Info seputar RESEP MASAKAN KELUARGA-DUNIA SEHAT-KELUARGA KITA-DUNIA KOMPUTER-SERBA-SERBI-dll
Showing posts with label Pendidikan Mental. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan Mental. Show all posts

Wednesday, July 22, 2009

Upaya Mencegah Kecemasan Siswa di Sekolah


Oleh : Akhmad Sudrajat


Kecemasan atau anxiety merupakan salah satu bentuk emosi individu yang berkenaan dengan adanya rasa terancam oleh sesuatu, biasanya dengan objek ancaman yang tidak begitu jelas. Kecemasan dengan intensitas yang wajar dapat dianggap memiliki nilai positif sebagai motivasi, tetapi apabila intensitasnya sangat kuat dan bersifat negatif justru malah akan menimbulkan kerugian dan dapat mengganggu terhadap keadaan fisik dan psikis individu yang bersangkutan.




Adalah Sigmund Freud, sang pelopor Psikoanalisis yang banyak mengkaji tentang kecemasan ini. Dalam kerangka teorinya, kecemasan dipandang sebagai komponen utama dan memegang peranan penting dalam dinamika kepribadian seorang individu.



Freud (Calvin S. Hall, 1993) membagi kecemasan ke dalam tiga tipe:



1. Kecemasan realistik yaitu rasa takut terhadap ancaman atau bahaya-bahaya nyata yang ada di dunia luar atau lingkungannya.



2. Kecemasan neurotik adalah rasa takut jangan-jangan insting-insting (dorongan Id) akan lepas dari kendali dan menyebabkan dia berbuat sesuatu yang bisa membuatnya dihukum. Kecemasan neurotik bukanlah ketakutan terhadap insting-insting itu sendiri, melainkan ketakutan terhadap hukuman yang akan menimpanya jika suatu insting dilepaskan. Kecemasan neurotik berkembang berdasarkan pengalaman yang diperolehnya pada masa kanak-kanak, terkait dengan hukuman dan ancaman dari orang tua maupun orang lain yang mempunyai otoritas, jika dia melakukan perbuatan impulsif.



3. Kecemasan moral yaitu rasa takut terhadap suara hati (super ego). Orang-orang yang memiliki super ego yang baik cenderung merasa bersalah atau malu jika mereka berbuat atau berfikir sesuatu yang bertentangan dengan moral. Sama halnya dengan kecemasan neurotik, kecemasan moral juga berkembang berdasarkan pengalaman yang diperolehnya pada masa kanak-kanak, terkait dengan hukuman dan ancaman dari orang tua maupun orang lain yang mempunyai otoritas jika dia melakukan perbuatan yang melanggar norma



Selanjutnya, dikemukakan pula bahwa kecemasan yang tidak dapat ditanggulangi dengan tindakan-tindakan yang efektif disebut traumatik, yang akan menjadikan seseorang merasa tak berdaya, dan serba kekanak-kanakan. Apabila ego tidak dapat menanggulangi kecemasan dengan cara-cara rasional, maka ia akan kembali pada cara-cara yang tidak realistik yang dikenal istilah mekanisme pertahanan diri (self defense mechanism), seperti: represi, proyeksi, pembentukan reaksi, fiksasi dan regresi. Semua bentuk mekanisme pertahanan diri tersebut memiliki ciri-ciri umum yaitu: (1) mereka menyangkal, memalsukan atau mendistorsikan kenyataan dan (2) mereka bekerja atau berbuat secara tak sadar sehingga tidak tahu apa yang sedang terjadi.



Kecemasan dapat dialami siapapun dan di mana pun, termasuk juga oleh para siswa di sekolah. Kecemasan yang dialami siswa di sekolah bisa berbentuk kecemasan realistik, neurotik atau kecemasan moral. Karena kecemasan merupakan proses psikis yang sifatnya tidak tampak ke permukaan maka untuk menentukan apakah seseorang siwa mengalami kecemasan atau tidak, diperlukan penelaahan yang seksama, dengan berusaha mengenali simptom atau gejala-gejalanya, beserta faktor-faktor yang melatarbelangi dan mempengaruhinya. Kendati demikian, perlu dicatat bahwa gejala-gejala kecemasan yang bisa diamati di permukaan hanyalah sebagian kecil saja dari masalah yang sesungguhnya, ibarat gunung es di lautan, yang apabila diselami lebih dalam mungkin akan ditemukan persoalan-persoalan yang jauh lebih kompleks.



Di sekolah, banyak faktor-faktor pemicu timbulnya kecemasan pada diri siswa. Target kurikulum yang terlalu tinggi, iklim pembelajaran yang tidak kondusif, pemberian tugas yang sangat padat, serta sistem penilaian ketat dan kurang adil dapat menjadi faktor penyebab timbulnya kecemasan yang bersumber dari faktor kurikulum. Begitu juga, sikap dan perlakuan guru yang kurang bersahabat, galak, judes dan kurang kompeten merupakan sumber penyebab timbulnya kecemasan pada diri siswa yang bersumber dari faktor guru. Penerapan disiplin sekolah yang ketat dan lebih mengedepankan hukuman, iklim sekolah yang kurang nyaman, serta sarana dan pra sarana belajar yang sangat terbatas juga merupakan faktor-faktor pemicu terbentuknya kecemasan pada siswa.yang bersumber dari faktor manajemen sekolah.



Menurut Sieber e.al. (1977) kecemasan dianggap sebagai salah satu faktor penghambat dalam belajar yang dapat mengganggu kinerja fungsi-fungsi kognitif seseorang, seperti dalam berkonsentrasi, mengingat, pembentukan konsep dan pemecahan masalah. Pada tingkat kronis dan akut, gejala kecemasan dapat berbentuk gangguan fisik (somatik), seperti: gangguan pada saluran pencernaan, sering buang air, sakit kepala, gangguan jantung, sesak di dada, gemetaran bahkan pingsan.



Mengingat dampak negatifnya terhadap pencapaian prestasi belajar dan kesehatan fisik atau mental siswa, maka perlu ada upaya-upaya tertentu untuk mencegah dan mengurangi kecemasan siswa di sekolah, diantaranya dapat dilakukan melalui:



1. Menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan. Pembelajaran dapat menyenangkan apabila bertolak dari potensi, minat dan kebutuhan siswa. Oleh karena itu, strategi pembelajaran yang digunakan hendaknya berpusat pada siswa, yang memungkinkan siswa untuk dapat mengkspresikan diri dan dapat mengambil peran aktif dalam proses pembelajarannya.



2. Selama kegiatan pembelajaran berlangsung guru seyogyanya dapat mengembangkan ?sense of humor? dirinya maupun para siswanya. Kendati demikian, lelucon atau ?joke? yang dilontarkan tetap harus berdasar pada etika dan tidak memojokkan siswa.



3. Melakukan kegiatan selingan melalui berbagai atraksi ?game? atau ?ice break? tertentu, terutama dilakukan pada saat suasana kelas sedang tidak kondusif.. Dalam hal ini, keterampilan guru dalam mengembangkan dinamika kelompok tampaknya sangat diperlukan.



4. Sewaktu-waktu ajaklah siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran di luar kelas, sehingga dalam proses pembelajaran tidak selamanya siswa harus terkurung di dalam kelas.



5. Memberikan materi dan tugas-tugas akademik dengan tingkat kesulitan yang moderat. Dalam arti, tidak terlalu mudah karena akan menyebabkan siswa menjadi cepat bosan dan kurang tertantang, tetapi tidak juga terlalu sulit yang dapat menyebabkan siswa frustrasi.



6. Menggunakan pendekatan humanistik dalam pengelolaan kelas, dimana siswa dapat mengembangkan pola hubungan yang akrab, ramah, toleran, penuh kecintaan dan penghargaan, baik dengan guru maupun dengan sesama siswa. Sedapat mungkin guru menghindari penggunaan reinforcement negatif (hukuman) jika terjadi tindakan indisipliner pada siswanya.



7. Mengembangkan sistem penilaian yang menyenangkan, dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan penilaian diri (self assessment) atas tugas dan pekerjaan yang telah dilakukannya. Pada saat berlangsungnya pengujian, ciptakan situasi yang tidak mencekam, namun dengan tetap menjaga ketertiban dan objektivitas. Berikanlah umpan balik yang positif selama dan sesudah melaksanakan suatu asesmen atau pengujian.



8. Di hadapan siswa, guru akan dipersepsi sebagai sosok pemegang otoritas yang dapat memberikan hukuman. Oleh karena itu, guru seyogyanya berupaya untuk menanamkan kesan positif dalam diri siswa, dengan hadir sebagai sosok yang menyenangkan, ramah, cerdas, penuh empati dan dapat diteladani, bukan menjadi sumber ketakutan.



9. Pengembangan menajemen sekolah yang memungkinkan tersedianya sarana dan sarana pokok yang dibutuhkan untuk kepentingan pembelajaran siswa, seperti ketersediaan alat tulis, tempat duduk, ruangan kelas dan sebagainya. Di samping itu, ciptakanlah sekolah sebagai lingkungan yang nyaman dan terbebas dari berbagai gangguan, terapkan disiplin sekolah yang manusiawi serta hindari bentuk tindakan kekerasan fisik maupun psikis di sekolah, baik yang dilakukan oleh guru, teman maupun orang-orang yang berada di luar sekolah.



10. Mengoptimalkan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah. Pelayanan bimbingan dan konseling dapat dijadikan sebagai kekuatan inti di sekolah guna mencegah dan mengatasi kecemasan siswa Dalam hal ini, ketersediaan konselor profesional di sekolah tampaknya menjadi mutlak adanya.



Melalui upaya ? upaya di atas diharapkan para siswa dapat terhindar dari berbagai bentuk kecemasan dan mereka dapat tumbuh dan berkembang menjadi individu yang sehat secara fisik maupun psikis, yang pada gilirannya dapat menunjukkan prestasi belajar yang unggul.



Sumber : www. akhmadsudrajat.wordpress.com





Sunday, July 5, 2009

Hakekat Mental


1. Pengertian Mental



Mental berasal dari kata latin yaitu mens, mentis yang artinya: jiwa, nyawa, sukma, roh, semangat (Kartini Kartono, 1987:3). Sedangkan dalam kamus psikologi Kartini Kartono, (1987:278) mengemukakan:






Mental adalah yang berkenaan dengan jiwa, batin ruhaniah. Dalam pengertian aslinya menyinggung masalah: pikiran, akal atau ingatan. Sedangkan sekarang ini digunakan untuk menunjukkan penyesuaian organisme terhadap lingkungan dan secara khusus menunjuk penyesuaian yang mencakup fungsi-fungsi simbolis yang disadari oleh individu.



Pengertian mental dalam kamus besar bahasa Indonesia, (1991:647) adalah“Berkenaan dengan batin dan watak manusia, yang bukan bersifat badan atau tenaga, Bukan bersifat badan atau tenaga: bukan hanya pembangunan fisik yang diperhatikan melainkan juga pembangunan batin dan watak”.



Mental secara istilah dapat diartikan dengan “semangat jiwa yang tegar, yang aktif, yang mempengaruhi perilaku hidup dan kehidupan manusia” (Mawardi Labay El- Sulthani,2001:2).



Melihat dari pernyataan diatas, maka mental bisa diartikan sesuatu yang berada dalam tubuh (fisik) manusia yang dapat memepengaruhi perilaku, watak dan sifat manusia di dalam kehidupan pribadi dan lingkungannya.



2. Ruang Lingkup Mental



Dalam Agama Islam keterpisahan antara ilmu pengetahuan dan masalah agama tidaklah terjadi. Agama dan ilmu pengetahuan adalah dua hal yang berjalan seiringan dan tidak terpisahkan. Oleh karena itu bagi seorang Muslim untuk membuat pemisahan antara pendekatan psikologi dan agama itu tidak mungkin, karena kajian manusia banyak disebut-sebut dalam Al- Quran.

Djamaludin Ancok mengemukakan :



Kajian tentang diri manusia banyak disebut-sebut Allah SWT dalam Al- Quran Antara lain “kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri” (QS.41:45). Ayat ini mengisyaratkan bahwa di alam semesta maupun dalam diri manusia terdapat suatu yang menunjukkan adanya tanda-tanda kekuasaan Allah. Yang dimaksud dengan “sesuatu” di sana adalah rahasia-rahasia tentang keadaan alam dan keadaan manusia (Djamaludin Ancok, 2001:148).



Kalau dikaji lebih jauh ayat-ayat Al-Quran dapat ditangkap bahwa manusia menenmpati posisi penting, seperti yang tertera dalam Al-Quran yang diturunkan kepada Rasulullah berbicara tentang manusia “Khalaqol insaana min’alaq”. Dapat diperhatikan dengan cermat, ada salah satu yang berkenaan dengan manusia yaitu jiwa.



Sedangkan dalam kajian psikologi masa kini ruang lingkup jiwa (mental) berkisar pada: tri- dimensionaraga (organo-biologi): jiwa (psiko-edukasi), dan lingkungan sosial budaya (sosio- kultural) sebagai penentuan utama perilaku dan kepribadian manusia. Dalam hal ini unsur raga semata bukan merupakan bidang kajian mental, melainkan termasuk bidang kajian bologi dan ilmu kedokteran demikian pula unsur lingkungan sosial budaya “an sich” tidak termasuk lahan mental tetapi bidang cakupan sosiologi dan antropologi. Tetapi sejauh kedua unsur ini berkaitan dengan pengalaman (kejiwaan) manusia, maka sudah tentu psikologi dapat dilibatkan.



Dengan demikian ruang lingkup psikologi secara garis besar adalah bidang-bidang psiko-biologi, psiko-ekstensial, dan psiko-sosial (budaya) dengan segala kemajemukannya (Hanna Djumhana Bastaman, 2001:148).



Sedangkan yang dimaksud dalam penelitian ini hanya berkisar pada organo- biologi (psiko-biologi) dan psiko-edukasi (jiwa).



3. Aspek-Aspek Mental



Manusia adalah makhluk yang pada dasarnya baik dan selalu ingin



Kembali padakebenaran yang sejati, karena pada diri manusia mempunyai



Aspek-aspek jiwa yang bisa mempengaruhi segala sikap dan tingkah laku manusia. Bertolak dari pernyataan maka aspek-aspek manusia dapat dijabarkan sebagai berikut:



a. Kartini Kartono (2000:6) mengemukakan bahwa aspek mental yang ada dalam diri manusia adalah keinginan, tindakan, tujuan, usaha-usaha, dan perasaan



b. Zakiah Darajat (1990:32) berpendapat bahwa aspek mental yang ada dalam diri manusia adlah kehendak, sikap, dan tindakan.



c. Mawardi Labay El- Shuthani (2001:3) memnadang bahw aspek mental yang ada dalam diri manusia adalah segala sesuatu yang menentukan sifat dan karakter manusia.



d. IbnuSina (1996:116) berpendapt bahwa aspek mental yang ada dalam diri manusia adalah kesadaran diri, amarah, dan keinginan.



e. Al Ghazali (1989:7)mengemukakan bahwa aspek mental yang ada dalam diri manusia adalah yang merasa, yang mengetahui dan yang mengenal.



f. Hanna Djuhamham Bastaman (2001:64) memandang bahwa aspek mental yang ada dalam diri manusia adalah berpikir, berkehendak, merasa, dan berangan-angan.



Pernyataan di atas menunjukkan bahwa aspek mental yang ad pad diri manusia adalah aspek-aspek yang dapat menentukan sifat dan karakteristik manusia itu sendiri. Perbuatan dan tingkah laku manusia sangat ditentukan oleh keadaan jiwanya yang merupaka motor penggerak suatu perbuatan. Oleh sebab itu aspek-aspek mental tersebut bisa manusia kendalikan melalui proses pendidikan.



Sumber : www.pendidikankita.com



Wednesday, July 1, 2009

Pendidikan Mental


Justify Full1. Pengartian Pendidikan Mental

Pendidikan berasal dari kata "didik", Lalu kata ini mendapat awalan kata "me" sehingga menjadi "mendidik" artinya memelihara dan memberi latihan. Dalam memelihara dan memberi latihan diperlukan adanya ajaran, tuntutan dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran (Kamus Bahasa Indonesia, 1991:232).



Selanjutnya pengertian "pendidikan" adalah proses perubahan sikap dan tatalaku sseorang atau kelompok orang dalam mendewasakn manusia, seperti yang tertera dalam undang-undang Sistem Pendidikan Nasional, No.2 tahun 1989. "Pendidikan" adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya dimasa yang akan datang.

Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan mental dalam penelitian ini adalah suatu usaha sadar yang dilakukan untuk memelihara, melatih, membimbing, dan mengarahkan batin dan watak manusia (mental) yang lebih baik supaya menjadi manusia seutuhnya. Artinya sosok manusia yang mempunyai kekuatan baik fisik maupun psikis dan mampu mengadakan perubahan-perubahan dalam tingkah laku dan sikap dimasa yang akan dating di dalam lingkungannya. Melihat dari pernyataan di atas tidak terpaku pada pendidikan di luar sekolah, salah satunya pendidikan mental lewat seni beladiri sebagaimana yang didefinisikan oleh PB. IPSI bersama Bakin. (Pepdikbud, 1985:46). Seni beladiri adalah basis budaya manusia Indonesia untuk membela eksistensi (kemandirian) dan integritas (kemanunggalan) terhadap lingkungan hidup guna meningkatkan hidup guna meningktakan iman dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Sebagaimana yang tertera dalam Undang-Undang NO.2 Tahun 1989 Tentang sistem Penidikan Nasional BAB II Pasal 4.

Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan.

2. Metode Pendidikan Mental

Metode adalah istilah yang digunakan untuk mengungkapkan pengertian "cara tepat dan cepat dalam melakukan sesuatu" (Ahmad Tafsir,1996:9), sehingga metode pendidikan mental dapat diartikan yaitu suatu cara tepat dan cepat dalam melakukan latihan, bimbingan, pemeliharaan batin dan watak manusia (mental).

Mawardi Labay El-Sulthani (2001:24) mengemukakan perkembangan mental akan mejadi mental yang baik atau mental yang jelek, tergantung alam ligkungan atau pendidikan yang akan mempengaruhinya. Bertolak dari pernyataan di atas pendidikan mental sangat penting bagi manusia supaya memiliki mental yang kuat, dengan cara yang tepat dan cepat secara bertahap.

A. Mawardi Labay El-Sulthan (2001:5) mengemukakan dalam bukunya yang berjudul Mental Yang Kuat Untuk Sukses Dan Selamat bahwa pembinaan mental yang baik yaitu dengan menanamkan Iman dan Taqwa.

B. Zakiah Darajat (1990:90) mengemukakan dalam bukunya yang berjudul Agama dan Kesehatan Mental bahwa pembinaan mental yang baik yaitu dengan cara mengambil nilai-nilai yang ada pada lingkungan terutama lingkungan keluarga sendiri yaitu nilai-nilai agama moral dan social.

C. Abu Ahmadi (1998:58) mengutarakan pembinaan mental yang baik yaitu dengan cara:

1) Mengembangkan potensi-potensi yang ada pada diri manusia.
2) Memberikan pencerahan batin dengan memberi kemampuan melihat rangkaian problem yang sedang dihadapi.
3) Membangkitkan semangat persatuan dan kesatuan dalam kehidupan.

D. Balnadi Sutadipura 1985:37) mengemukakan dalam bukunya yang berjudul Kompetensi Guru Dan Kesehatan Mental pembinaan mental itu dengan cara:

1) Menanamkan nomos (aturan) pada diri manusia
2) Menanamkan rasa tanggung jawab
3) Menanamkan rasionalitas dan common sense (merasa ingin diakui)
4) Menanamkan disiplin

E. Robert peek dalam buku Kompetensi Guru Dan Kesehatan Mental karangan Balnadi Sutadipura, mengemukakan untuk menanamkan mental yang baik adalah dengan cara menanamkan :

1) Initiative, inisiatif atau alpukah yaitu tidak mudah terpengaruh.
2) Self-directing, sifat untuk berani menetapkan arahan hidup atau perbuatan yang diyakininya.
3) Emosional Maruting ialah kedewasaan emosi: kemampuan untuk melakukan reaksi terhadap yang dialaminya, dilihatnya, didengarnya, dirasakan, dibacanya, dan tidak mudah terpengaruh secara berlebihan.
4) Self- Realzing drive: suatu kemampuan untuk atas kemampuan sendiri adalah melakukan segala sesuatu dengan mengerahkan kemampuan yang ada padanya.
5) Self- acceptance: sikap yang tidak menimbulkan penyesalannya atas kehdiran di dunia ini.
6) Resfect for other: menaruh rasa hormat terhadap orang lain.

F. Singgih D. Gunarsa (1996:104) dalam psikologi olahraga mengemukakan bahwa dalam pendidikan mental yang harus dididik antara lain:

1) Adanya penanaman pengendalian emosi dengan cara:
(a) Adanya keterbukaan antara pelatih dan anggotanya.
(b) Latihan simulasi untuk membiasakan (condifioning) atau pendidikan, ialah usaha untuk membiasakan diri dan supaya tidak asing dengan segala yang akan dihadapinya.
(c) Latihan menghilangkan atau mengurangi kepekan (desintiuitication). Latihan yang diarahkan agar tidak mudah tergoncang jiwanya karena memikirkan sesuatu perkara yang buruk.
(d) Latihan relaksasi progesif (progesive relaxation training) untuk mengurangi ketegangan melalui peregangan atau pelemasan otot sehingga tercipta suasana yang lebih tenang.
(e) Latihan autosuggestion, centring adalah latihan untuk memusatkan perhatian terhadap kehidupan yang sedang dihadapinya dan menyingkirkan pikiran-pikiran yang mengganggu (menyerupai meditasi).

2) Memberi motivasi dengan cara
(a) Menanamkan nilai-nilai kepuasan tersendiri dalam melakukan sesuatu.
(b) Memberi dorongan kepercayaan diri dengan meyakinkan kemampuannya yang telah terpupuk dari dulu melalui usaha latihan yang telah dilakukan.

3) Memberi latihan aspek kognisi dengan cara:
(a) Seseorang harus bisa memusatkan perhatian pada sesuatu yang sedang dihadapinya dan mencari jaln keluarnya sendiri.
(b) Memberi gambaran suatu kesalahan-kesalahan atau kelemahan orang lain yang harus diperbaiki dan harus dipelajari timbulnya kesalahan.

Dalam Buku Dasar-Dasar Respons Relaksasi Karangan Herbert Benson Dan William Procror mengemukakan pembinaan mental yang baik adalah:

G. B.F Skiner (2000:93) mengemukakan pendidikan mental dilakukan dengan cara adanya suatu usaha perubahan lingkungan sehingga dapat mengendalikan perilaku, dengan memberikan suatu dorongan atau memberikan sesuatu ( hadiah)

H. Neil E. Miller (2000:94) mengemukakan pendapatnya bahwa pendidikan mental dilakukan dengan cara pengendalian proses tubuh bawah sadar melalui proses Biofedback meliputi pemberian hadiah dan hukuman.

I. Yogi Maharishi Mahesha (2000:101) memaparkan bahwa pendidikan mental dilakukan dengan bermeditasi (Transcendental Meditation).

J. H.H. Shult seorang ahli syaraf Jerman (2000:113) mengamukakan pendidikan mental dilakukan dengan pelatihan autogenik yaitu salah satu teknik terapi medis yang didasarkan pada pelatihan mental, sehingga orang yang bersangkutan mampu secara sadar mengantarkan dirinya ke dalam keadaan yang kurang stabil atau disebut keadaan Trofo Trofis Hess dengan cara:

1) Memusatkan satu perasaan terhadap beban yang sedang dialaminya.
2) Sensasi (kesan) hangat dianggota badan.
3) Mangatur detak jantung.
4) Konsentrasi pasif pada pernafasan.
5) Mengupayakan kesejukan pikiran.

Pendapat para pakar di atsa menunjukkan keselarasan dalam membentuk mental yang sehat dan kuat menurut para pakar pendidikan dapat penulis rumuskan menjadi beberapa aspek antara lain sebagai berikut :

1. Pembinaan mental melalui agama.
2. Pembinaan mental melalui pribadi.
3. Pembinaan mental melalui lingkungan.

Pembinaan mental melalui agama yaitu dengan cara menanamkan keimanan dan ketakwaan, pembinaan mental melalui pribadi dengan cara mengendalikan emosi, motivasi, berfikir positif, dan mengembangkan potensi diri, sedangkan pembinaan mental melalui lingkungan dengan cara memahami situasi keadaan masyarakat, mengambil nilai-nilai positif dalam keluarga dan masyarakat,dari ketiga aspek itu adanya keterkaitan antara yang satu dan yang lainnya sehingga apabila yang satu tidak terpenuhi maka yang lainnya juga tidak akan maksimal.

Sumber : www.pendidikankita.com

Saturday, June 20, 2009

Pendidikan Mental


1. Pengartian Pendidikan Mental




Pendidikan berasal dari kata "didik", Lalu kata ini mendapat awalan kata "me" sehingga menjadi "mendidik" artinya memelihara dan memberi latihan. Dalam memelihara dan memberi latihan diperlukan adanya ajaran, tuntutan dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran (Kamus Bahasa Indonesia, 1991:232).





Selanjutnya pengertian "pendidikan" adalah proses perubahan sikap dan tatalaku sseorang atau kelompok orang dalam mendewasakn manusia, seperti yang tertera dalam undang-undang Sistem Pendidikan Nasional, No.2 tahun 1989. "Pendidikan" adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya dimasa yang akan datang.



Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan mental dalam penelitian ini adalah suatu usaha sadar yang dilakukan untuk memelihara, melatih, membimbing, dan mengarahkan batin dan watak manusia (mental) yang lebih baik supaya menjadi manusia seutuhnya. Artinya sosok manusia yang mempunyai kekuatan baik fisik maupun psikis dan mampu mengadakan perubahan-perubahan dalam tingkah laku dan sikap dimasa yang akan dating di dalam lingkungannya. Melihat dari pernyataan di atas tidak terpaku pada pendidikan di luar sekolah, salah satunya pendidikan mental lewat seni beladiri sebagaimana yang didefinisikan oleh PB. IPSI bersama Bakin. (Pepdikbud, 1985:46). Seni beladiri adalah basis budaya manusia Indonesia untuk membela eksistensi (kemandirian) dan integritas (kemanunggalan) terhadap lingkungan hidup guna meningkatkan hidup guna meningktakan iman dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa.



Sebagaimana yang tertera dalam Undang-Undang NO.2 Tahun 1989 Tentang sistem Penidikan Nasional BAB II Pasal 4.



Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan.



2. Metode Pendidikan Mental


Metode adalah istilah yang digunakan untuk mengungkapkan pengertian "cara tepat dan cepat dalam melakukan sesuatu" (Ahmad Tafsir,1996:9), sehingga metode pendidikan mental dapat diartikan yaitu suatu cara tepat dan cepat dalam melakukan latihan, bimbingan, pemeliharaan batin dan watak manusia (mental).



Mawardi Labay El-Sulthani (2001:24) mengemukakan perkembangan mental akan mejadi mental yang baik atau mental yang jelek, tergantung alam ligkungan atau pendidikan yang akan mempengaruhinya. Bertolak dari pernyataan di atas pendidikan mental sangat penting bagi manusia supaya memiliki mental yang kuat, dengan cara yang tepat dan cepat secara bertahap.



A. Mawardi Labay El-Sulthan (2001:5) mengemukakan dalam bukunya yang berjudul Mental Yang Kuat Untuk Sukses Dan Selamat bahwa pembinaan mental yang baik yaitu dengan menanamkan Iman dan Taqwa.



B. Zakiah Darajat (1990:90) mengemukakan dalam bukunya yang berjudul Agama dan Kesehatan Mental bahwa pembinaan mental yang baik yaitu dengan cara mengambil nilai-nilai yang ada pada lingkungan terutama lingkungan keluarga sendiri yaitu nilai-nilai agama moral dan social.



C. Abu Ahmadi (1998:58) mengutarakan pembinaan mental yang baik yaitu dengan cara:



1) Mengembangkan potensi-potensi yang ada pada diri manusia.

2) Memberikan pencerahan batin dengan memberi kemampuan melihat rangkaian problem yang sedang dihadapi.

3) Membangkitkan semangat persatuan dan kesatuan dalam kehidupan.



D. Balnadi Sutadipura 1985:37) mengemukakan dalam bukunya yang berjudul Kompetensi Guru Dan Kesehatan Mental pembinaan mental itu dengan cara:



1) Menanamkan nomos (aturan) pada diri manusia

2) Menanamkan rasa tanggung jawab

3) Menanamkan rasionalitas dan common sense (merasa ingin diakui)

4) Menanamkan disiplin



E. Robert peek dalam buku Kompetensi Guru Dan Kesehatan Mental karangan Balnadi Sutadipura, mengemukakan untuk menanamkan mental yang baik adalah dengan cara menanamkan :



1) Initiative, inisiatif atau alpukah yaitu tidak mudah terpengaruh.

2) Self-directing, sifat untuk berani menetapkan arahan hidup atau perbuatan yang diyakininya.

3) Emosional Maruting ialah kedewasaan emosi: kemampuan untuk melakukan reaksi terhadap yang dialaminya, dilihatnya, didengarnya, dirasakan, dibacanya, dan tidak mudah terpengaruh secara berlebihan.

4) Self- Realzing drive: suatu kemampuan untuk atas kemampuan sendiri adalah melakukan segala sesuatu dengan mengerahkan kemampuan yang ada padanya.

5) Self- acceptance: sikap yang tidak menimbulkan penyesalannya atas kehdiran di dunia ini.

6) Resfect for other: menaruh rasa hormat terhadap orang lain.



F. Singgih D. Gunarsa (1996:104) dalam psikologi olahraga mengemukakan bahwa dalam pendidikan mental yang harus dididik antara lain:


1) Adanya penanaman pengendalian emosi dengan cara:

(a) Adanya keterbukaan antara pelatih dan anggotanya.

(b) Latihan simulasi untuk membiasakan (condifioning) atau pendidikan, ialah usaha untuk membiasakan diri dan supaya tidak asing dengan segala yang akan dihadapinya.

(c) Latihan menghilangkan atau mengurangi kepekan (desintiuitication). Latihan yang diarahkan agar tidak mudah tergoncang jiwanya karena memikirkan sesuatu perkara yang buruk.

(d) Latihan relaksasi progesif (progesive relaxation training) untuk mengurangi ketegangan melalui peregangan atau pelemasan otot sehingga tercipta suasana yang lebih tenang.

(e) Latihan autosuggestion, centring adalah latihan untuk memusatkan perhatian terhadap kehidupan yang sedang dihadapinya dan menyingkirkan pikiran-pikiran yang mengganggu (menyerupai meditasi).



2) Memberi motivasi dengan cara

(a) Menanamkan nilai-nilai kepuasan tersendiri dalam melakukan sesuatu.

(b) Memberi dorongan kepercayaan diri dengan meyakinkan kemampuannya yang telah terpupuk dari dulu melalui usaha latihan yang telah dilakukan.



3) Memberi latihan aspek kognisi dengan cara:

(a) Seseorang harus bisa memusatkan perhatian pada sesuatu yang sedang dihadapinya dan mencari jaln keluarnya sendiri.

(b) Memberi gambaran suatu kesalahan-kesalahan atau kelemahan orang lain yang harus diperbaiki dan harus dipelajari timbulnya kesalahan.



Dalam Buku Dasar-Dasar Respons Relaksasi Karangan Herbert Benson Dan William Procror mengemukakan pembinaan mental yang baik adalah:


G. B.F Skiner (2000:93) mengemukakan pendidikan mental dilakukan dengan cara adanya suatu usaha perubahan lingkungan sehingga dapat mengendalikan perilaku, dengan memberikan suatu dorongan atau memberikan sesuatu ( hadiah)



H. Neil E. Miller (2000:94) mengemukakan pendapatnya bahwa pendidikan mental dilakukan dengan cara pengendalian proses tubuh bawah sadar melalui proses Biofedback meliputi pemberian hadiah dan hukuman.



I. Yogi Maharishi Mahesha (2000:101) memaparkan bahwa pendidikan mental dilakukan dengan bermeditasi (Transcendental Meditation).


J. H.H. Shult seorang ahli syaraf Jerman (2000:113) mengamukakan pendidikan mental dilakukan dengan pelatihan autogenik yaitu salah satu teknik terapi medis yang didasarkan pada pelatihan mental, sehingga orang yang bersangkutan mampu secara sadar mengantarkan dirinya ke dalam keadaan yang kurang stabil atau disebut keadaan Trofo Trofis Hess dengan cara:



1) Memusatkan satu perasaan terhadap beban yang sedang dialaminya.

2) Sensasi (kesan) hangat dianggota badan.

3) Mangatur detak jantung.

4) Konsentrasi pasif pada pernafasan.

5) Mengupayakan kesejukan pikiran.


Pendapat para pakar di atsa menunjukkan keselarasan dalam membentuk mental yang sehat dan kuat menurut para pakar pendidikan dapat penulis rumuskan menjadi beberapa aspek antara lain sebagai berikut :


1. Pembinaan mental melalui agama.

2. Pembinaan mental melalui pribadi.

3. Pembinaan mental melalui lingkungan.


Pembinaan mental melalui agama yaitu dengan cara menanamkan keimanan dan ketakwaan, pembinaan mental melalui pribadi dengan cara mengendalikan emosi, motivasi, berfikir positif, dan mengembangkan potensi diri, sedangkan pembinaan mental melalui lingkungan dengan cara memahami situasi keadaan masyarakat, mengambil nilai-nilai positif dalam keluarga dan masyarakat,dari ketiga aspek itu adanya keterkaitan antara yang satu dan yang lainnya sehingga apabila yang satu tidak terpenuhi maka yang lainnya juga tidak akan maksimal.



Sumber : www.pendidikankita.com



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...