"Dunia Kita Dunia Keluarga" sajikan Info seputar RESEP MASAKAN KELUARGA-DUNIA SEHAT-KELUARGA KITA-DUNIA KOMPUTER-SERBA-SERBI-dll
Showing posts with label RENUNGAN. Show all posts
Showing posts with label RENUNGAN. Show all posts

Wednesday, December 29, 2010

KETIKA KEMENANGAN JADI HARAPAN 2

(ketika Timnas menang 2-1 dengan Malaysia pada Final putaran II Piala AFF, 29 Desember 2010 di Stadion Gelora Bung Karno Indonesia dan Skor akhir Malaysia unggul 4-2 atas Indonesia)


Ketika kemenangan jadi harapan...
Berjuang sepenuh jiwa berjibaku di medan laga
Segala daya telah tercurah...
Getar jiwa setiap insan telah menggelora
Membahana.. menengadah..
Memohon do'a

Tiada perjuangan yang sia-sia
Kemenangan hanya milik Sang Maha Kuasa
Yang diberi menang diuji ketamakan
Yang diberi kalah diuji kesabaran

Hilangkan semua mimpi
Raih kepastian dengan sepenuh hati
Kemenangan bukan tujuan dari semuanya
Tapi kekalahan juga bukan akhir segalanya
Tetapi tetap gelorakan semangat diri
Meraih satu yang lebih dari sekedar menang
Menghilangkan sesal dari sekedar kekalahan
Hanya Jiwa besar dan bersih hati
Sucikan langkah satukan arti
Demi menatap kelak dikemudian hari

Anas MH, 29 Desember 2010

Sunday, December 26, 2010

KETIKA KEMENANGAN JADI HARAPAN

(ketika Timnas harus kalah 3-0 dengan Malaysia pada Final putaran I Piala AFF, 26 Desember 2010 di Stadion Bukit Jalil Malaysia)


Ketika kemenangan jadi harapan...
Berjuang sepenuh jiwa berjibaku di medan laga
Ada sosok yang menyelinap...
Selalu menjadi bayang-bayang yang menghantui
Gerak langkah tak lagi terarah
Terkadang jatuh dan tersungkur
Seolah berat semua rasa
Masih mungkinkah harapan itu kan datang..
Mungkin...
Tetapi tidak bisa dipastikan...

Namun ketika Kemenangan bukan jadi harapan...
Tetapi menjunjung kejujuran dan kebenaran
Maka kemulyaan pasti kan datang
Kemenangan yang menggelora akan bergetar
Menggetarkan semangat banyak jiwa
Menghilangkan rasa sesal dan kecewa

Hilangkan semua mimpi
Raih kepastian dengan sepenuh hati
Kemenangan bukan segalanya
Tetapi tetap gelorakan semangat diri
Meraih satu yang lebih dari sekedar menang
Jiwa besar dan bersih hati
Demi menatap kelak dikemudian hari

Anas MH, 26 Desember 2010

KISAH PEMUDA ISTIMEWA

Dalam suatu kesempatan Allah SWT memberikan wahyu kepada Nabi Sulaiman AS untuk pergi ke laut agar melihat sesuatu yang mengagumkan dan mendapati hikmah dibaliknya. Nabi Sulaiman AS pun keluar dari istananya menuju laut bersama-sama jin dan manusia. Sesampainya ditepi laut, beliau tak melihat sesuatu yang menarik perhatiannya, lantas Nabi Sulaiman AS berkata kepada jin Ifrit : ”Menyelamlah engkau kedasar laut ini dan kembalilah dengan membawa sesuatu yang menarik didalamnya.” Jin Ifrit pun menyelam hingga lama dan kembali lagi, lalu berkata : “wahai nabi Sulaiman, sungguh aku telah menyelam kedalam laut dengan perjalanan yang amat jauh, tetapi tidak sampai kedasarnya dan juga tidak kulihat sesuatu yang menarik.”

Kemudian Nabi Sulaiman AS memerintahkan jin yang lain. Sama halnya dengan jin yang pertama, ia tidak juga menemukan sesuatu pun yang menarik. Walaupun jin yang kedua ini menyatakan telah menyelam sebanyak dua kali. Lalu nabi Sulaiman memerintah seorang manusia yaitu Ashif bin Burkhiya, menteri beliau yang disebut dalam Al Qur’an sebagai orang yang mengerti ilmu kitab. Melalui Ashif, akhirnya nabi Sulaiman AS dibawakan kubah yang mempunyai 4 pintu, masing-masingnya terbuat dari intan, yaqut, mutiara, dan zabarjad yang hijau.

Lalu pintu kubah itu terbuka seluruhnya, namun setetes air pun tidak masuk kedalamnya, padahal kubah itu berada di dasar laut yang paling dalam. Di dalam kubah terdapat seorang pemuda yang berpakaian putih bersih dan baik sedang melaksanakan shalat.

Nabi Sulaiman AS masuk kedalamnya dan mengucapkan salam lalu berkata kepada pemuda itu : ”Apakah yang membuatmu bisa bertempat tinggal di dasar laut ini?”

Pemuda itu pun menjawab : “ Wahai Nabi Allah, sesungguhnya ayahku itu orang yang lumpuh dan ibuku tuna netra, aku selalu berusaha melayani mereka selama 70 tahun.”

Ketika ibuku akan meninggal dunia, beliau berdoa :”Ya Allah, berilah anakku usia yang panjang untuk beribadah kepadaMu.”

Begitu juga ketika ayahku akan meninggal dunia, beliau berdoa :”Ya Allah, berilah anakku kesempatan untuk beribadah kepadaMu disuatu tempat yang kiranya tidak bisa dilalui oleh syetan.” Setelah aku memakamkan jenazah ayah dan ibuku, lalu aku pergi menuju tepi laut dan kulihat kubah ini persis dihadapanku. Aku pun masuk ke dalam kubah tersebut untuk melihat keindahan di dalamnya. Akhirnya sesosok Malaikat datang kepadaku dan membawaku bersamanya ke dalam laut ini.

Kemudian nabi Sulaiman AS pun bertanya :”kira-kira kapankah kau sampai ke tepi laut ini?”

Pemuda itu menjawab : ”Ketika pada zaman nabi Ibrahim AS.”

Nabi Sulaiman mengingat tentang sejarah Nabi Ibrahim AS yang bisa diperkirakan 2400 tahun silam. Sungguh pun demikian, pemuda itu masih tetap muda, tak ada satupun uban di rambut kepalanya.

Nabi Sulaiman AS bertanya : “Bagaimanakah minuman dan makananmu?”

Pemuda itu menjawab : ”Setiap hari ada seekor burung hijau membawakan sesuatu yang kuning di patuknya, lalu aku memakannya. Aku bisa merasakan segala kenikmatan didunia dengan memakannya. Aku tidak merasa lapar dan haus, panas dingin dan tidur pun tidak ada keingdinan lagi, aku tidak merasa susah dan jemu sama sekali.

Kemudian nabi Sulaiman AS berkata : ”Apakah engkau senang untuk ikut bersama kami? Apakah kau ingin kukembalikan lagi ke tempatmu?”

Pemuda itu menjawab : ”Wahai Nabi Allah, aku ingin kembali ke tempatku semula.”

Dan pada akhirnya Nabi Sulaiman AS memerintahkan Ashif bin Burkhiya untuk mengembalikan pemuda yang berbakti pada kedua orang tuanya itu ke tempatnya semula di dasar lautan yang terdalam demi menikmati keindahan ibadah pada Allah SWT.
(Dikutip dari kitab Irsyadul Ibad Ila Sabilir Rasyad) 

sumber :vivin

Kisah Bocah Amerika Masuk Islam

Kisah spiritual anak kecil yang memeluk islam hanya karena dia baca mengenai buku Islam, setelah sebelumnya orang tuanya memberinya semua buku semua agama yang ada di dunia, Orang tua mutusin agar anaknya sendiri yang memilih agamanya.

langsung aja baca bawah ane Spoiler for : KISAH BOCAH AMERIKA MASUK ISLAM

Rasulullah saw bersabda: ”Setiap bayi yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari)

Kisah bocah Amerika ini tidak lain adalah sebuah bukti yang membenarkan hadits tersebut di atas. Alexander Pertz dilahirkan dari kedua orang tua Nasrani pada tahun 1990 M. Sejak awal ibunya telah memutuskan untuk membiarkannya memilih agamanya jauh dari pengaruh keluarga atau masyarakat. Begitu dia bisa membaca dan menulis maka ibunya menghadirkan untuknya buku-buku agama dari seluruh agama, baik agama langit atau agama bumi. Setelah membaca dengan mendalam, Alexander memutuskan untuk menjadi seorang muslim. Padahal ia tak pernah bertemu muslim seorangpun. Dia sangat cinta dengan agama ini sampai pada tingkatan dia mempelajari sholat, dan mengerti banyak hukum-hukum syar’i, membaca sejarah Islam, mempelajari banyak kalimat bahasa Arab, menghafal sebagian surat, dan belajar adzan. Semua itu tanpa bertemu dengan seorang muslimpun. Berdasarkan bacaan-bacaan tersebut dia memutuskan untuk mengganti namanya yaitu Muhammad ’Abdullah, dengan tujuan agar mendapatkan keberkahan Rasulullah saw yang dia cintai sejak masih kecil.

Salah seorang wartawan muslim menemuinya dan bertanya pada bocah tersebut. Namun, sebelum wartawan tersebut bertanya kepadanya, bocah tersebut bertanya kepada wartawan itu, ”Apakah engkau seorang yang hafal Al Quran ?”

Wartawan itu berkata: ”Tidak”. Namun sang wartawan dapat merasakan kekecewaan anak itu atas jawabannya.

Bocah itu kembali berkata , ”Akan tetapi engkau adalah seorang muslim, dan mengerti bahasa Arab, bukankah demikian ?”.

Dia menghujani wartawan itu dengan banyak pertanyaan. ”Apakah engkau telah menunaikan ibadah haji ? Apakah engkau telah menunaikan ’umrah ? Bagaimana engkau bisa mendapatkan pakaian ihram ? Apakah pakaian ihram tersebut mahal ? Apakah mungkin aku membelinya di sini, ataukah mereka hanya menjualnya di Arab Saudi saja ? Kesulitan apa sajakah yang engkau alami, dengan keberadaanmu sebagai seorang muslim di komunitas yang bukan Islami ?”

Setelah wartawan itu menjawab sebisanya, anak itu kembali berbicara dan menceritakan tentang beberapa hal berkenaan dengan kawan-kawannya, atau gurunya, sesuatu yang berkenaan dengan makan atau minumnya, peci putih yang dikenakannya, ghutrah (surban) yang dia lingkarkan di kepalanya dengan model Yaman, atau berdirinya di kebun umum untuk mengumandangkan adzan sebelum dia sholat.

Kemudian ia berkata dengan penuh penyesalan, ”Terkadang aku kehilangan sebagian sholat karena ketidaktahuanku tentang waktu-waktu sholat.”

Kemudian wartawan itu bertanya pada sang bocah, ”Apa yang membuatmu tertarik pada Islam ? Mengapa engkau memilih Islam, tidak yang lain saja ?” Dia diam sesaat kemudian menjawab.

Bocah itu diam sesaat dan kemudian menjawab, ”Aku tidak tahu, segala yang aku ketahui adalah dari yang aku baca tentangnya, dan setiap kali aku menambah bacaanku, maka semakin banyak kecintaanku”.

Wartawan bertanya kembali, ”Apakah engkau telah puasa Ramadhan ?”

Muhammad tersenyum sambil menjawab, ”Ya, aku telah puasa Ramadhan yang lalu secara sempurna. Alhamdulillah, dan itu adalah pertama kalinya aku berpuasa di dalamnya. Dulunya sulit, terlebih pada hari-hari pertama”.

Kemudian dia meneruskan : ”Ayahku telah menakutiku bahwa aku tidak akan mampu berpuasa, akan tetapi aku berpuasa dan tidak mempercayai hal tersebut”.

”Apakah cita-citamu ?” tanya wartawan.

Dengan cepat Muhammad menjawab, ”Aku memiliki banyak cita-cita. Aku berkeinginan untuk pergi ke Makkah dan mencium Hajar Aswad”. ”Sungguh aku perhatikan bahwa keinginanmu untuk menunaikan ibadah haji adalah sangat besar. Adakah penyebab hal tersebut ?” tanya wartawan lagi.

Ibu Muhamad untuk pertama kalinya ikut angkat bicara, dia berkata : ”Sesungguhnya gambar Ka’bah telah memenuhi kamarnya, sebagian manusia menyangka bahwa apa yang dia lewati pada saat sekarang hanyalah semacam khayalan, semacam angan yang akan berhenti pada suatu hari. Akan tetapi mereka tidak mengetahui bahwa dia tidak hanya sekedar serius, melainkan mengimaninya dengan sangat dalam sampai pada tingkatan yang tidak bisa dirasakan oleh orang lain”. Tampaklah senyuman di wajah Muhammad ’Abdullah, dia melihat ibunya membelanya.

Kemudian dia memberikan keterangan kepada ibunya tentang thawaf di sekitar Ka’bah, dan bagaimanakah haji sebagai sebuah lambang persamaan antar sesama manusia sebagaimana Tuhan telah menciptakan mereka tanpa memandang perbedaan warna kulit, bangsa, kaya, atau miskin.

Kemudian Muhammad meneruskan, ”Sesungguhnya aku berusaha mengumpulkan sisa dari uang sakuku setiap minggunya agar aku bisa pergi ke Makkah Al- Mukarramah pada suatu hari. Aku telah mendengar bahwa perjalanan ke sana membutuhkan biaya 4 ribu dollar, dan sekarang aku mempunyai 300 dollar.”

Ibunya menimpalinya seraya berkata untuk berusaha menghilangkan kesan keteledorannya, 
”Aku sama sekali tidak keberatan dan menghalanginya pergi ke Makkah, akan tetapi kami tidak memiliki cukup uang untuk mengirimnya dalam waktu dekat ini.”

”Apakah cita-citamu yang lain ?” tanya wartawan.

“Aku bercita-cita agar Palestina kembali ke tangan kaum muslimin. Ini adalah bumi mereka yang dicuri oleh orang-orang Israel (Yahudi) dari mereka.” jawab Muhammad, Ibunya melihat kepadanya dengan penuh keheranan.
Maka diapun memberikan isyarat bahwa sebelumnya telah terjadi perdebatan antara dia dengan ibunya sekitar tema ini. Muhammad berkata, ”Ibu, engkau belum membaca sejarah, bacalah sejarah, sungguh benar-benar telah terjadi perampasan terhadap Palestina.”

”Apakah engkau mempunyai cita-cita lain ?” tanya wartawan lagi.

Muhammad menjawab, “Cita-citaku adalah aku ingin belajar bahasa Arab, dan menghafal Al Quran.”

“Apakah engkau berkeinginan belajar di negeri Islam ?” tanya wartawan Maka dia menjawab dengan meyakinkan : “Tentu”

”Apakah engkau mendapati kesulitan dalam masalah makanan ? Bagaimana engkau menghindari daging babi ?”

Muhammad menjawab, ”Babi adalah hewan yang sangat kotor dan menjijikkan. Aku sangat heran, bagaimanakah mereka memakan dagingnya. Keluargaku mengetahui bahwa aku tidak memakan daging babi, oleh karena itu mereka tidak menghidangkannya untukku. Dan jika kami pergi ke restoran, maka aku kabarkan kepada mereka bahwa aku tidak memakan daging babi.”

”Apakah engkau sholat di sekolahan ?”

”Ya, aku telah membuat sebuah tempat rahasia di perpustakaan yang aku shalat di sana setiap hari” jawab Muhammad Kemudian datanglah waktu shalat maghrib di tengah wawancara. Bocah itu langsung berkata kepada wartawan,”Apakah engkau mengijinkanku untuk mengumandangkan adzan ?”

Kemudian dia berdiri dan mengumandangkan adzan. Dan tanpa terasa, air mata mengalir di kedua mata sang wartawan ketika melihat dan mendengarkan bocah itu menyuarakan adzan.

Sumber : Ahbabuz Zahro
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...